THIS IS FEATURED POST 1 TITLE

THIS IS FEATURED POST 1 TITLE

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam

Quas molestias excepturi
THIS IS FEATURED POST 2 TITLE

THIS IS FEATURED POST 2 TITLE

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam

Impedit quo minus id
THIS IS FEATURED POST 3 TITLE

THIS IS FEATURED POST 3 TITLE

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam

Voluptates repudiandae kon
THIS IS FEATURED POST 4 TITLE

THIS IS FEATURED POST 4 TITLE

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam

Mauris euismod rhoncus tortor

Taufik Kurniawan: Jangan Ajari Muhammadiyah Soal Toleransi


Unknown | 00.06 | ,

Warga Muhammadiyah asal Surabaya saat berkumpul di PWM Jakarta untuk Aksi 55
Warga Muhammadiyah asal Surabaya saat berkumpul di PWM Jakarta untuk Aksi 55 (ROL)




Wakil Ketua DPR RI Taufik Kurniawan mengatakan jangan mengajari Muhammadiyah soal toleransi maupun kebinekaan. Sebab, justru Muhammadiyah yang menemukan toleransi dan kebhinnekaan tersebut.

"Insya Allah Muhammadiyah akan memberikan yang terbaik untuk meluruskan perjalanan NKRI. Jangan ajari Muhammadiyah dengan toleransi, kebhinekaan. Karena Muhammadiyah yang menemukan itu,” kata Taufik saat kegiatan 'Apel Menggembirakan Kebangsaan dan Kesiapsiagaan Bencana Nasional’ yang diselenggarakan Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam) Pemuda Muhammadiyah, di GOR Petrokimia Gresik, Ahad (7/5/2017), seperti dikutip Republika.

Dalam orasi tersebut, Taufik menyoroti tentang perjalanan reformasi dan demokrasi di Indonesia.

Reformasi, menurutnya, telah memberi ruang bagi rakyat untuk memilih pemimpinnya sendiri. Namun, banyak hal yang melenceng, di antaranya demokrasi yang “dibeli.”






Ia pun meminta Pemuda Muhammadiyah untuk meluruskan arah demokrasi sehingga tidak hanya segelintir orang yang memanfaatkan kekayaan Indonesia.

Sebelumnya, Kapolri Jenderal Tito Karnavian menilai Aksi Bela Islam menggerus toleransi.

"Dua peristiwa penting Aksi 411 dan Aksi 212 walau ditangani dengan baik tapi menimbulkan indikator yang harus diwaspadai bersama. Ini menggerus toleransi, kebinekaan, dan berbahaya bagi NKRI," kata Tito saat memberikan sambutan Rapat Pimpinan Polri 2017 di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian, Jakarta Selatan, 25 Januari lalu, seperti dikutip CNN. [Ibnu K/Tarbiyah.net]






Buntut Pidato Provokatif, Gubernur Kalbar Diusir dari Aceh dan Ditolak di Sejumlah Daerah


Unknown | 20.57 | ,

Demo mengusir Gubernur Kalbar dari Aceh
Penampakan massa saat demo mengusir Gubernur Kalbar dari Aceh (Youtube.com)




Akibat pidatonya yang provokatif dan dinilai intoleran terhadap Islam, Cornelis mulai kena batunya. Gubernur Kalimantan Barat itu diusir dari Aceh dan ditolak di sejumlah daerah.

Sabtu lalu (6/5/2017), sejumlah warga Aceh menggelar aksi di Bundaran Simpang 5 Kota Banda Aceh serta mendatangi Hotel Hermes Palace tempat Cornelis menginap dalam rangka pembukaan acara Pekan Nasional (Penas) Petani Nelayan di Provinsi Aceh.

Warga Aceh meminta kepada pihak Hotel Hermes utuk segera mengeluarkan Cornelis dari hotel tersebut. Mereka beralasan, hal itu disebabkan penolakan Cornelis atas kedatangan Ulama di Kalimantan Barat. Cornelis juga diketahui dalam pidatonya akan mengusir Habib Rizieq dan Tengku Zulkarnaen jika datang ke Kalimantan Barat.

Aksi mengusir Cornelis direkam dalam video yang kini bisa disaksikan di Youtube. Tampak sejumlah warga Aceh meneriakkan “Usir Gubernur Kalimantan Barat... Usir Gubernur Kalimantan Barat.”







Tidak sedikit netizen yang mengaku dari daerah lain juga menyatakan penolakan kepada Cornelis.

Sebelumnya, beredar video pidato Cornelis yang menyatakan akan mengusir Habib Rizieq dan Tengku Zulkarnaen jika datang ke Kalbar.

“Islam itu tidak seperti Rizieq dan Tengku Zulkarnaen itu. Kalau dia datang ke tempat ini ke Kalimantan Barat, usir! Saya jadi provokatornya,” kata Cornelis.








Aksi 55, Amien Rais Pimpin Warga Muhammadiyah Bergerak ke Gedung MA


Unknown | 21.34 | ,

Amien Rais saat orasi di Aksi Bela Islam terdahulu
Amien Rais saat orasi di Aksi Bela Islam terdahulu




Jumlah peserta Aksi 55 terus bertambah. Sedikitnya lima ribu warga Muhammadiyah akan bergerak ke Gedung Mahkamah Agung (MA) langsung dipimpin oleh tokor reformasi Amien Rais.

Bersama umat Islam lainnya yang diprediksi berjumlah jutaan, mereka akan menyampaikan tuntutan agar terdakwa kasus penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dihukum maksimal.

Namun, warga Muhammadiyah tidak berangkat dari Masjid Istiqlal. Mereka akan bergerak dari gedung PW Muhammadiyah DKI Jakarta, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat menuju Gedung MA.






Terlebih dahulu, mereka akan menunaikan shalat Jumat dengan dipimpin oleh Mantan Ketua MPR RI itu.

"Kami shalat Jumat di Kramat. Nanti Pak Amien (Rais) yang jadi khatib. Ini untuk menghindari membludaknya massa di Istiqlal," terang Komandan Komando 1912, M. Mashuri Masyhuda, seperti dikutip RMOL, Jumat (5/5/2017).

Setelah shalat Jumat, warga Muhammadiyah akan bergerak menuju gedung MA di Jalan Medan Merdeka Utara dengan mengambil rute Kramat, Tugu Tani, Gambir, Medan Merdeka Selatan, dan Medan Merdeka Barat.

Ia menambahkan, Amien Rais akan berada di atas mobil komando, langsung memimpin mereka. [Ibnu K/Tarbiyah.net]






Rosi Sindir Aksi Bela Islam Merongrong Kewibawaan Pemerintah, Ini Tanggapan Panglima TNI


Unknown | 20.59 | ,

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dan Rosi
Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dan Rosi




Menjelang Aksi Simpatik 55 yang akan digelar Jum’at (5/5/2017) siang, Rosi Kompas TV mengangkat tema “Membidik Jokowi Lewat Ahok; Pemberitaan Media Itu Fakta atau Provokasi” dengan langsung menghadirkan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo.

Dalam salah satu pertanyaannya, Rosi menyindir aksi bela Islam merongrong pemerintah. Namun, tanggapan Jenderal Gatot sungguh mengejutkan. Panglima TNI itu justru menyebut Ahok penista agama.

“Kita tidak bisa menafikan bahwa saat ini posisi militer di tengah kondisi setelah Pilkada. Pilkada sudah selesai, tapi rasanya kok masih belum reda juga ya situasi yang cukup panas ini. Besok (Jumat 5 Mei, red) tetap ada aksi massa, begitu pun dengan hari Selasa. Sebenarnya seperti apa posisi tentara terhadap aksi-aksi yang bisa dianggap oleh, ini kan ada dua kelompok yang berhadapan diametral. Bagaimana posisi militer terhadap aksi-aksi yang dianggap merongrong kewibawaan pemerintah?” tanya Rosi.






“Rosi, jadi aksi-aksi yang dilakukan ini terhadap Ahok, semuanya terkait dengan Pilkada dan masalah Ahok yang diduga menista agama. Jadi dua, Pilkada sama Ahok sebagai penista agama. Dua-duanya ini yang satu masalah politik praktis, yang satu masalah hukum. Dan dua-duanya bukan kewenangan TNI. Kalaupun ada irisan sedikit TNI ikut di situ, itu karena TNI membantu kepolisian Republik Indonesia,” tegas Jenderal Gatot.

Lebih jauh ia menuturkan bahwa TNI hanya turun membantu memantau dan mengamankan aksi-aksi tersebut agar berjalan dengan baik karena diminta oleh Polri.

Jawaban Panglima TNI ini menuai pujian dari sejumlah netizen muslim. [Ibnu K/Tarbiyah.net]






Ini “Tamparan” Pengamat Militer Salim Said untuk Acara Rosi yang Mengundang Panglima TNI


Unknown | 19.44 | ,

Pengamat militer Salim Said
Pengamat militer Salim Said (Kompas TV)




Menjelang Aksi Simpatik 55 yang akan digelar Jum’at (5/5/2017) siang, Rosi Kompas TV mengangkat tema “Membidik Jokowi Lewat Ahok; Pemberitaan Media Itu Fakta atau Provokasi” dengan langsung menghadirkan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, Kamis (4/5/2017) malam.

Salah satu nara sumber yang juga dihadirkan Rosi adalah Salim Said. Salah satu pernyataan pengamat militer itu justru menampar acara tersebut.

Salim Said tidak setuju dengan Rosi yang menyebut Allan Nairn sebagai wartawan senior. Menurutnya, Nairn tidak lebih dari seorang provokator.

“Zaman ini sudah berubah. Jadi orang ini (Allan Nairn, red) terlambat. Dia membuat analisa tentang keadaan sekarang dengan menggunakan data masa lalu. Itu sebabnya saya tidak setuju Anda menyebut dia wartawan senior, atau wartawan apa. Dia bukan wartawan. Dia aktifis provokator. Dan dia sudah mengacau kita bertahun-tahun,” kata Salim Said disambut tepuk tangan meriah.






Salim Said pun memuji sikap Panglima TNI yang tegas tidak mau menanggapi Allan Nairn. Ia juga menegaskan tidak melihat ada kebenaran dalam tulisan Nairn. “Orang ini terbiasa membuat provokasi semacam ini,” tandasnya.

Sejalan dengan Panglima TNI, Salim Said juga mengaku diundang oleh beberapa stasiun TV untuk menanggapi Allan Nairn namun ia tidak mau. Termasuk ketika akan dipertemukan dengan Nairn.

“Yang membuat saya sedih, kita jadi ribut, Panglima yang banyak kerjaan suruh datang ke sini, kita ikut bicara,” tandas Salim Said disambut tawa sebagian pemimpin redaksi. Namun ada juga yang mimiknya berubah serius mendengar “tamparan” Salim Said itu. [Ibnu K/Tarbiyah.net]






Ada Pertanyaan “Jebakan”, Jawaban Tegas Panglima TNI Disambut Tepuk Tangan


Unknown | 09.26 | ,

Panglima TNI di Acara Rosi
Panglima TNI di Acara Rosi (Kompas TV)




Menjelang Aksi Simpatik 55 yang akan digelar Jum’at (5/5/2017) siang, Rosi Kompas TV mengangkat tema “Membidik Jokowi Lewat Ahok.” Dalam rangka mengkonfirmasi tudingan Allan Nairn yang menyebut adanya koalisi antara TNI dan elemen umat Islam untuk menjatuhkan Presiden Jokowi, Rosi mengundang Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo.

Di antara sekian pertanyaan Rosi, disinyalir ada pertanyaan “jebakan” yang jika salah dijawab oleh Jenderal Gatot, bisa dicurigai apa yang ditulis Allan Nairn benar adanya.

“Bapak Gatot, sekali lagi Pak, kalau saya boleh mendetailkan, tulisan itu. Saya tahu bapak merasa bahwa tulisan itu, ‘ini tidak perlu ditanggapi.’ Kalau tadi saya ambil esensi Bapak mengatakan jangan mentang-mentang ini wartawan bule, lalu dianggap kebenaran. Hanya, dalam tulisan tersebut disebut bahwa Bapak sebagai main factor. ‘Gerakan melawan Presiden Jokowi diorkestrasi dari belakang layar oleh beberapa Jenderal aktif dan pensiunan. Jurnalis ini mengaku mendapat kesaksian dari hasil wawancara mereka dari para pejabat institusi termasuk perwira aktif. Apa Bapak tidak membuka peluang, bahwa informasi ini justru didapat dari lingkaran terdekat Bapak?” tanya Rosi.






“Saya tidak membahas ini karena kaau kita lihat, masyarakat di Jakarta khususnya, bisa mengetahui kok apa yang terjadi enam bulan terakhir. Bisa mengetahui persis apa yang terjadi enam bulan terakhir. Mulai 411 dan seterusnya. Itu yang pertama.”

“Kemudian yang kedua, kalau toh dikatakan saya akan makar, sejak Reformasi 1998 sampai dengan saat ini, syukur alhamdulillah Ros, bahwa institusi TNI tidak pernah tidak netral. Selalu netral. Dan tidak pernah ikut politik praktis. Saya tidak berani main-main. Kalau institusi TNI main-main, tidak mungkin saat ini institusi TNI adalah institusi yang terpercaya oleh nasyarakat Indonesia,” jawab Jenderal Gatot disambut tepuk tangan meriah. [Ibnu K/Tarbiyah.net]






Mengapa Menganggap Kecil Isu TNI Kudeta Jokowi? Ini Jawaban Cerdas Jenderal Gatot


Unknown | 08.56 | ,

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di acara Rosi Kompas TV
Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di acara Rosi (Kompas TV)




Rosi malam ini (Kamis, 4 Mei 2017) menarik perhatian. Pasalnya, menjelang Aksi Simpatik 55, program di Kompas TV ini mengambil tajuk “Membidik Jokowi Lewat Ahok.”

Rosi mengawali acaranya dengan menayangkan tulisan Allan Nairn yang menyebut telah terjadi koalisi antara TNI dan elemen umat Islam untuk menjatuhkan Presiden Jokowi. Nama Jenderal TNI Gatot Nurmantyo disebut dalam tulisan sepanjang 4.400 kata itu.

Dalam rangka konfirmasi, Rosi mengundang Jenderal Gatot di acara tersebut.

“Pak Panglima, Bapak sudah mengatakan bahwa tulisan wartawan senior Amerika Allan Nairn ini sebagai ‘kecil, nggak usah dipikirin’. Tapi ini kan meluas di media digital. Bagaimana Bapak bisa menganggap ini kecil padahal saat ini digital itu bisa mempengaruhi banyak opini publik. Mengapa Anda menganggap ini kecil padahal orang bisa percaya bahwa ini benar,” tanya Rosi.






“Orang bisa percaya bahwa ini benar itu kalau zaman dulu kita baru-baru merdeka. Mungkin saya pas baru lahir tahun 1960-an. Karena dulu kalau yang namanya kita bekas dijajah jadi melihat orang bule itu, kalau orang kampung saya bilang, ndoro Londo. Atau Tuan Londo, atau Tuan Belanda. Semua bule dianggap seperti itu. Jadi semua yang dibicarakan oleh bule-bule itu dianggap benar semuanya,” jawab Jenderal Gatot.

“Tapi mungkin kelompok-kelompoknya Allan tersebut lupa, bahwa sekarang kita sudah sangat maju. Banyak perusahaan milik orang-orang Indonesia mempekerjakan bule-bule di sini. Jadi kalau saya nanggapi hal seperti itu, saya seperti hidup pada zaman saat baru merdeka, kan. Terlalu naif sekali.”

“Jadi ya saya katakan, kalau Rosi berkelahi sama orang gila, menang orang gila. Orang bilang, orang gila Lu lawan, Lu gila juga kan. Apalagi kalah, gitu kan. Jadi kelompok-kelompoknya Nairn itu, yang megendalikan Nairn maksud saya, bisa jadi juga namanya proxy kan. Bisa jadi orang Indonesia, bisa jadi pejabat atau mantan pejabat, atau bapak dengan anaknya bersekongkol dan sebagainya kan. Membuat seperti itu. Terus kalau saya tanggapi, berarti saya juga bodoh kan?. Lupakan saja itu,” lanjut Jenderal Gatot. [Ibnu K/Tarbiyah.net]






 
Design Downloaded from free Blogger templates | free website templates | Seodesign.us | Funny Sport Videos.